Kamis, 05 Mei 2011

Cerpen Cah SiAnak

wusss...!!!

"jalanan di desa kita sepertinya perlu diperbaiki pak, lihat, dimana-mana banyak lubang-lubang yang membahayakan pengguna jalan, belum lagi jalanan yang becek karena hujan bikin warga malas keluar" seorang warga mengadu ke Pak Amin yang sebagai seorang Kepala Desa tentang jalan yang ada di desanya.
Ilustrasi by Tino

Yah, jalan satu-satunya yang menghubungkan desa dimana Pak Amin tinggal dengan kehidupan di luaran sana memang sudah tergolong memprihatinkan kondisinya. Jalanan yang belum diaspal masih berupa tanah, belum lagi kalau hujan turun dan kemudian jalanan itu menjadi becek. Tapi karena jalanan itu pula Pak Amin bisa melihat bagaimana warganya selalu pergi bersama-sama ketika di rumah salah satu warga ada yang sedang hajatan atau acara desa dengan berjalan kaki. Kemudian Pak Amin pun bisa melihat bagaimana warganya bergotong royong untuk memperbaiki jalan yang becek dan berlubang dengan guyub rukun tanpa ada yang pernah mengeluh satu sama lain. "siapa lagi kalau bukan kita yang menjaganya, lha wong saya setiap hari harus melewatinya untuk keperluan ke pasar pak" kata Yu Dar salah satu pemilik warung di desa. Bukan hanya Yu Dar saja yang berkata demikian, hampir semua warga sependapat dengan apa yang dikatakan Yu Dar, "jalan desa adalah milik semua warga jadi sepatutnya kita sebagai warga desa harus menjaganya atau memperbaiki jalan yang rusak secara bersama-sama dan gotong royong" tambah Pak Dul, kyai di desanya disela-sela pengajian rutin. Pak Amin pun senang melihat kondisi warganya saat itu, semua warganya telah memiliki suatu kesadaran bersama akan sesuatu hal yg bermanfaat untuk seluruh kemaslahatan warga desa.

Tetapi kemudian keadaan telah berubah, entah sesuatu apa membuat warganya sekarang sering mengeluh ke Pak Amin tentang kondisi jalan desa yang rusak.
"di desa sebelah, jalanannya sudah diaspal bagus pak, katanya itu untuk pembangunan desa biar mobilisasi warganya lancar" kata Parman, lulusan S1 jurusan Tekhnik.
"aduh, saya capek pak kalau setiap hari nglewatin jalan desa yang becek kemudian setiap hari pula saya harus mencuci motor yang baru saja saya beli ini dari kota" ujar si Siti yang baru pulang merantau sebagai pembantu rumah tangga di kota.
"iya pak, saya sebagai seorang Kyai di desa ini juga harus terus bolak-balik untuk mengisi pangajian di rumah-rumah warga, jadi jangan sampai hanya gara-gara jalanan yang becek saya telat datang mengisi pengajian" tambah Pak Dul.
"Sepertinya jalan desa kita harus diperbaiki pak, ini demi kepentingan warga yang saat ini membutuhkan suatu pembangunan untuk perkembangan desa kita pak" usul Pak Umar sebagai Ketua RT pada kesempatan Musyawarah Desa.
"Betul sekali Pak Amin, sekarang pembangunan sudah dilakukan dimana-mana dan di berbagai bidang, dan saat ini desa kita perlu suatu pembangunan menuju perubahan yang lebih baik untuk menunjang apa yang menjadi potensi di desa kita, dan yang mencakup itu adalah pembangunan jalan desa kita ini" tambah Pak Mul sebagai seorang Ketua RW dalam kesempatan yang sama.
"Dan kita harus secepatnya melakukan pembangunan ini untuk mengikuti perkembangan jaman yang semakin maju dan membutuhkan sarana dan prasarana infrastruktur yang memadai demi kepentingan bersama Pak Amin, kalau boleh saya usul, saya menyarankan supaya jalan desa kita ini diaspal Pak Amin" pendapat Pak Ranu selaku Sekdes.
"Hmm..mm..pembangunan desa, perkembangan jaman, kepentingan warga, perubahan.." pikir Pak Amin.
"tunggu apa lagi Pak Amin, saya sepakat dengan Pak Ranu, jalan desa kita harus diaspal untuk memudahkan warga beraktivitas" seru salah satu warga di kesempatan Musyawarah Desa yang kemudian di-iya-kan oleh sebagian besar warga yang hadir dalam acara tersebut.
"Ya, jika memang pembangunan jalan desa ini dikehendaki oleh semua warga maka saya selaku Kepala Desa menyetujui dan memutuskan untuk melakukan pembangunan jalan desa demi kepentingan bersama. Semoga dengan pembangunan ini akan memberi dampak yang positif bagi kita semua. Dan semoga Tuhan Yang Maha Esa memberkati pembangunan ini dengan segala rahmatNya.Amin" ucap Pak Amin untuk keputusan dari Musyawarah Desa.

Kemudian setelah melalui persiapan yang panjang maka diaspal lah jalan desa tersebut. Hampir semua jalan desa, baik itu jalan utama atau jalan-jalan yang kecil tak luput dari pengaspalan ini. Akhirnya selesai sudah perbaikan jalan desa tersebut.

Sebulan kemudian,
"ada yang berubah bu" kata Pak Amin suatu sore kepada istrinya ketika mereka duduk-duduk di teras rumah sembari minum teh bersama.
"apanya yang berubah pakne?" tanya Bu Amin.
"kondisi jalan desa kita bu'ne"jawab Pak Amin.
"lho, bukannya jalan desa kita memang sudah berubah pak, dari yang tadinya masih berupa tanah dan becek berubah menjadi jalan yang beraspal dan mulus pak" terang Bu Amin.
"iya, kalau itu memang sudah terlihat berubah bu'ne" jawab Pak Amin singkat.
"terus apanya yang berubah pak?" tanya Bu Amin penasaran.
"huuff.." Pak Amin menghela nafas.
"masak bu'ne tidak merasa ada yang berubah dengan jalan desa ini?"tanya Pak Amin.
"hmm..mm..ya itu tadi, jalan desa kan sudah diaspal pak, kan bapak sendiri yang bilang ini demi perubahan keadaan jalan yang lebih baik agar menunjang aktivitas warga, kemudian bapak memutuskan untuk melakukan pembangunan jalan desa waktu musyawarah desa beberapa bulan yang lalu. Lalu sekarang bapak malah menanyakan ke ibu apa yang berubah sama jalan desa ini. Memangnya menurut bapak, apanya yang berubah?" tanya Bu Amin sedikit agak kesal.
"iya, yang bu'ne katakan tadi benar, tapi ada sesuatu yang berubah di jalan desa ini"jawab Pak Amin.
"ah pakne dari tadi jawabannya itu-itu melulu, malah tidak memberikan jawaban ke ibu, apanya yang berubah dari jalan desa pakne?! cepetan, ibu mau pergi pengajian nih.." kata Bu Amin yang mulai kesal.
"sabar bu'ne, begini...."terang Pak Amin.
Belum sempat Pak Amin memberikan jawaban ke istrinya, tiba-tiba dari seberang jalan desa terlihat anaknya sedang ngebut di atas motor yang baru dibelikan Pak Amin beberapa hari yang lalu.
"wuuussss...!!!!!"
Ani melewati mereka berdua begitu saja tanpa menyapa, asyik sendiri di atas motor barunya dan juga jalan desa yang baru diaspal.
"astaghfirullah, itu kan Ani pak, kok ngebut2an seperti itu, malah lewat begitu saja di depan kita pakne?!"tanya Bu Amin setengah berteriak karena kaget melihat kelakuan anaknya.
"nah, itu salah satu yang berubah dari jalan desa ini bu'ne, semua orang berlalu lalang sendiri-sendiri tanpa saling menyapa satu sama lain, seperti jalan punya sendiri saja" terang Pak Amin
"oowh, itu toh yang berubah eh dilanjut nanti lagi ya pak, ibu mau berangkat pengajian dulu, ini sudah ditunggu sama ibu-ibu yang lain, ga enak kalau ibu telat, masak istri seorang Kades telat, apa kata orang nanti"ucap Bu Amin
"bu'ne pergi sama siapa?" tanya Pak Amin.
"sendirian kok pakne, kan ibu sekarang sudah punya motor, terus sekarang bu'ne juga sudah bisa naik motor, motor baru sekalian nyoba jalan desa yang baru..hehehe.."jawab Bu Amin sembari menyalakan sepeda motornya yang baru.
"wuuuuuusss..!!!!" Bu Amin pun melesat seolah-olah tak mau kalah dengan Ani, anaknya.
Pak Amin hanya geleng-geleng kepala dan kemudian, "wuuuusss...!!!" Pak Amin pergi ke toilet, buang hajat. (Selesai)

*Cerpen ini salah satu karya kecil dari Much.Iskandar M. anggota aktif teater SiAnak, untuk mengetahui lebih jelas mengenai profilnya, silahkan klik di sini

Tidak ada komentar: