Rabu, 27 April 2011

Banyak Semut Di Sekre

Karya Tulis ini adalah karya Arista "Aming" tunggadewi
Gadis kelahiran Tangerang, 21 Maret 1992.

Untuk mengetahui lebih lengkap mengenai profilnya, klik di sini

Banyak semut di “rumah” ku
Sebelumnya izinkan aku mencurahkan sekelumit keresahan yang aku rasakan selama menjadi anggota Teater SiAnak Fisip Unsoed. Segala cerita yang tertuang disini bukanlah rekayasa belaka, dan sebenar-benarnya tidak ada maksud menyinggung, mengumpat atau menjelek-jelekkan UKM Teater siAnak sendiri.
Sekretariat disingkat sekre, sanggar atau markas barangkali sudah tidak asing lagi di telinga para pegiat UKM Teater. Sekre menurutku bukan lagi sebuah tempat berkumpul saat ada rapat atau pertemuan organisasi, atau sekadar tempat mencari inspirasi dan menumbuhkan gairah seni saja. Sejauh aku merasakan menjadi anggota Teater SiAnak. Sekre, rasanya lebih tepat disebut sebagai “rumah kedua”. Seperti namanya, sekre telah menjadi sebuah tempat yang memberikan hawa dan rasa tersendiri sehingga membuat penghuninya menjadi nyaman berada di dalamnya. Itu jelas aku rasakan betul setelah selama setahun (mungkin) menjadi bagian dari Teater siAnak dan “rumah terindah” siAnak. Dulu, ketika belum resmi menjadi bagian dari Teater SiAnak, aku agak tercengang saat untuk kali pertamanya diajak memasuki bangunan seadanya yang lebih mirip gudang (kala itu). Mulanya aku malas untuk intens datang ke sekre, bahkan hampir ingin mundur saja dan tidak jadi masuk keanggotaan SiAnak. Tapi tidak semata-mata karena sekrenya yang terkesan kumuh itu juga. Namun, lambat laun aku menjadi betah sendiri. Entah kenapa, setelah sering bermain-main di dalamnya, tiba-tiba rasa nyaman itu muncul begitu saja. Bahkan, aku sampai pernah merasai tidur diatas karpet hijaunya yang kata megol ‘bau prengus’. Alangkah lucunya, meski kotor, bau apek, debu bersarang disana sini, banyak semut namun sekre terasa seperti rumah kedua sekarang. Membikin rindu untuk terus ‘bersetubuh’ dengannya.
Sekarang setelah aku resmi menjadi bagian dari Teater SiAnak, perlahan ‘rasa memiliki’ itu mulai tumbuh dan mulai membuat aku sedikit jengah ketika melihat suasana sekre yang hampir-tidak-pernah tidak berantakan. Mungkin, wajar adanya bila sekre atau sanggar UKM yang bergerak di bidang seni itu kotor dan berantakan, dari kalimat-kalimat yang sering aku dengar sih begini “Kalo sekre berantakan kan berarti keliatan prosesnya”. Aku sempat mengangguk juga saat mendengarnya. Tapi itu dulu sekali, saat aku kurang terlibat di dalam kegiatan Teater SiAnak. Nyatanya sekarang, sejauh aku berteman dengan sekre dan kekotorannya, aku semakin sadar arti pentingnya merawat kebersihan dan kerapihan sekre.
Mana “rumah” yang kamu bangga-banggakan itu? Mengapa kamu malah larut menikmati kekotoran rumahmu sendiri? Melihat semut menyerbu tiap sudut rumahmu, apa kamu akan diam saja? Dimana rasa memiliki mu? Masihkah ada? Atau kau tak punya?
Pantaskah pertanyaan-pertanyaan itu terlontar, harusnya bahkan jangan sampai ada. Aku jadi ingat lagu masa kecilku dulu “Banyak semut di rumahku hu..u.. gara-gara kamu malas bersih-bersih.” Agaknya lagu itu menjadi sentilan bagi kami para penghuni sekre siAnak, tak terkecuali aku. Mengapa banyak semut? Ya karena kita para penghuninya “malas” bersih-bersih. Dan mengapa sekre menjadi kotor bahkan terkesan kumuh seperti gudang? Ya jelas karena kurangnya kepedulian untuk bersama membuat sekre menjadi bersih dan nyaman. Misalnya, lewat rutinitas kerja bakti dan yang terpenting adalah kesadaran dari masing-amsing individunya untuk senantiasa menjaga sekre menjadi selayaknya “rumah terindah”. Barangkali kerapihan sekre menjadi hal sepele yang sedikit dikesampingkan, akan tetapi biar bagaimanapun bila ditelisik, itu menjadi cerminan dari individu-individu penghuninya. Maka alangkah bahagianya bila keresahan yang aku rasakan sekarang pun dapat menjadi keresahan kita bersama. Seperti sebuah pepatah, “di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat.” Anggap saja tubuh itu sekre, dan jiwa nya itu adalah penghuni-penghuni di dalamnya. Jika sekre bersih,maka pastilah orang-orang di dalamnya ikut tercermin pribadi-pribadi yang bersih pula.
Arista Tunggadewi (aming)

Tidak ada komentar: