*Karya : Muchamad Iskandar M.
Pak Amin adalah seorang kepala desa yang baru saja terpilih.Tentu saja jabatan ini harus membuat dia lebih peka terhadap keadaan masyarakatnya.Siang itu dia berniat untuk melihat keadaan masyaratnya di pasar.Yah, pasar merupakan pusat keramaian dan ekonomi, pikir pak Amin, jadi apa salahnya kalau dia jalan-jalan sebentar ke pasar sambil memantau tingkah laku masyarakatnya.
Sesampainya di pasar pak Amin
segera melihat-lihat keadaan apakah kondisi pasar aman dan terkendali.Tiba-tiba pandangan matanya tertuju di pojokan pasar, dimana banyak kerumunan orang dan suasananya ramai sekali.Bergegaslah pak Amin menuju ke sana,"ada apa ini??"tanya pak Amin kepada salah satu orang di antara kerumunan itu.
Ternyata pertanyaan pak Amin tidak dihiraukan oleh orang tersebut, malah orang tersebut terlihat sibuk dengan satu jeligen bensin di tangannya.
"Sial, sudah jadi kepala desa saja omongan saya tidak di dengar apalagi kalau cuma orang awam" gerutu pak Amin.
Lalu dengan segenap tenaga pak Amin berusaha merengsek maju ke tengah-tengah kerumunan persis seperti orang-orang yang sedang berebut pembagian zakat atau sejenisnya.akhirnya dengan susah payah pak Amin berhasil sampai di tengah-tengah kerumunan, kemudian apa yang dilihatnya sungguh suatu pemandangan yang menakjubkan.Seorang pemuda dengan pakaian compang-camping, dekil.dan lusuh tergeletak tak berdaya tapi masih dalam keadaan sadar sembari memegang tangannya yg berlumuran darah.
"astaga, apa-apan ini??"pikir pak Amin, sementara orang-orang sibuk dengan beberapa pukulan ke pemuda itu.
Lalu dengan berteriak pak Amin mencoba menghentikan keributan itu,
"berhenti semuanya, saya kepala desa di sini, berhenti semuanya!!!".
Perlahan-lahan keributan itu mereda dan orang-orang mundur perlahan sembari melihat pak Amin dengan tatapan tajam.Setelah suasana agak tenang pak Amin mencoba bicara terkait apa yang ia lihat sekarang.
"Saya kepala desa di sini.Ada apa ini??kenapa kalian main keroyok begini??kalau bisa dibicarakan terlebih dahulu kenapa tidak, jangan seperti ini caranya,main keroyokan seperti orang tidak punya otak saja".kata pak Amin setengah berteriak ke arah kerumunan massa itu." Pak Amin ingin bicara??silakan bicara sama orang gila itu pak.Tanyakan saja ke dia, apa yang telah dia lakukan di pasar tadi, itupun kalau dia menjawab".jawab salah satu orang di antara kerumunan itu sambil tertawa dan diikuti oleh yang lainnya.
"orang gila??" pikir pak Amin.
Lalu diperhatikannya pemuda itu dengan seksama mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala.Dan yang dilihatnya adalah seorang pemuda dengan keadaan yang menyedihkan, beberapa luka di bagian wajahnya hampir membuat dia tidak terlihat seperti manusia normal pada umumnya.Belum lagi darah segar yang mengalir dari beberapa bagian tubuhnya yang sudah menganga karena sabetan benda tumpul ataupun benda tajam.Tapi hebatnya dia masih sadar walaupun dengan keadaan yang sudah payah.
"Apa betul kamu orang gila seperti apa yang mereka katakan??" tanya pak Amin penasaran.
Pemuda itu hanya diam saja tapi tatapan matanya yang tajam tertuju ke pak Amin.
"Hei jawab jangan diam saja, apa betul kamu orang gila??" tanya pak Amin dengan nada setengah membentak.
Baru kali ini ada seorang kepala desa membentak seorang pemuda yang tengah sekarat ditambah lagi kalau saja pemuda itu ternyata benar-benar orang gila.
Orang-orang sudah tidak sabar lagi, kerumunan mulai ribut.
"sudah pak Amin, biar kami saja yang mengurusnya.Pak Amin tinggal tahu beresnya saja" seru salah satu orang di kerumunan itu.
"iya pak, pak Amin urus saja masalah yang lain.Biar masalah ini kami saja yang menyelesaikan" sahut salah seorang perempuan di antara kerumunan itu yang kemudian di-iya-kan oleh yang lainnya.
"Tenang semuanya, biarkan dia menjawab pertanyaan saya dulu.Toh masalah kalian juga masalah bagi saya selaku kepala desa.Jadi berikan dia kesempatan untuk bicara dulu." kata pak Amin ke arah kerumunan.
"Nah,sekali lagi tolong jawab pertanyaan saya apa betul kamu orang gila??" tanya pak Amin ke pemuda itu.
Mata pemuda itu menatap tajam ke arah pak Amin dan kerumunan massa, dengan sisa tenaganya dia menjawab,
"uugh..uugh..hehehehe..ugh..saya tidak tahu siapa saya, bukankah kalian sendiri yang menamai orang seperti saya ini sebagai orang gila.Uuugh..hehehe..kalau itu memang mau kalian, yah saya memang orang gila seperti yang kalian tuduhkan selama ini..hahahahahaha.uuuuggh...".
Suasana mulai ribut lagi.
"Sudah hajar saja orang gila itu!!!" teriak orang-orang.
"Tenang..tenang..!!"teriak Pak Amin terkejut
"Astaga, kalian tidak malu sudah menghajar habis-habisan orang gila ini.Di mana pikiran kalian, bukankah dia hanya orang gila yang tidak waras otaknya, kenapa kalian menghajarnya sampai babak belur begini??"
"Dia mengacau di pasar ini pak. Berteriak-teriak ke sana kemari tidak karuan."
"iya pak, orang-orang di pasar ini terganggu dengan adanya orang gila ini.Padahal sudah sering diusir tapi dia selalu balik lagi ke pasar ini."
" usir saja orang gila ini, kalau perlu buang saja orang gila ini ke hutan. Di sini bukan tempat dia..cih..!!"
"iya..setuju..!!" teriak orang-orang di kerumunan
Tiba-tiba orang gila itu berteriak ke arah kerumunan.
"hahahahahaha..kalian takut dengan orang gila??hahahahahahaha..toh, orang seperti saya ini memang tidak mempunyai tempat di dunia ini.Jadi apa yang mesti di takutkan??.Bukankah kalian juga yang menciptakan tempat dan ruang tersendiri buat orang gila seperti saya ini..hahahahahaha..Tuhan saja tidak pernah menciptakan gila tapi kalian sudah berani menciptakan saya sebagai orang gila, memangnya kalian Tuhan..hah??!!.Hahahahahahaha..oh, jangan-jangan kalian sendirilah yang gila??hahahahahahaha..oh Tuhaan, saya tidak ingin dikatakan sebagai orang gila oleh orang-orang gila di sini..hahahahahahaha..!!!!!"
Suasana sudah tidak terkendali lagi, orang-orang mulai menghajar orang gila tersebut.Tiba-tiba orang yang membawa bensin tadi menyiramkan bensin tersebut ke tubuh orang gila itu.Maka terbakarlah tubuh orang gila itu diiringi dengan teriakan-teriakan puas dari orang-orang di pasar.Pak Amin hanya bisa termangu saja melihat peristiwa tersebut tanpa bisa melakukan apa-apa.
Tubuh orang gila itu sudah tak bergerak lagi, bau bangkai hangus terbakar tercium dimana-mana, sementara kerumunan massa itu mulai membubarkan diri satu per satu.Dalam hitungan detik suasana sudah mulai tenang kembali dan orang-orang melanjutkan aktivitasnya seperti biasanya, seolah-olah tidak terjadi sesuatu apapun hari itu.
Pak Amin masih berdiri diam mematung di samping mayat orang gila tersebut yang sudah hangus itu.Sembari menatap mayat orang gila itu, pak Amin bergumam lirih dan takjub,
"Gila..."
*Penulis adalah anggota SiAnak, pernah menjabat sebagai Demang Teater SiAnak periode 2008-2009. Saat ini beliau sedang menekuni dunia perkuliahan di Jurusan Administrasi Negara, Tahun angkatan..... Mmmm... Untuk tahun angkatan lebih enaknya silahkan tanyakan langsung ke orangnya. Lebih lengkapnya klik di sini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar