Senin, 29 November 2010

Puisi "Aming"

Beberapa Puisi Karya Ariesta "Aming", Cah SiAnak 2009.
Gadis kelahiran Tangerang, 21 Maret 1992.
Untuk mengetahui lebih lengkap mengenai profilnya, klik di sini



Hah


bangkai kenaifan dan kemunafikan bersetubuh menjadi aroma bengis yang kuhirup dari sela sela parasmu
ayu tapi busuk
aku tertawa lirih dalam kalbu
hanya mampu membisu memandang dirimu yang entah bernama manusia atau apa

ini bukan hinaan atau puja puji
sungguh aku hanya sedang ingin menggetarkan resahku selama ini akanmu
akan paras ayumu
dan gumpalan aroma bacin itu

hah, rasanya muntah pun sia sia
toh raut ayumu tetap akan berdansa diantara bongkahan bangkai kenaifan dan kemunafikan
tak usai usai
hingga kamu terkulai sendiri akan busukmu
nanti..
mungkin nanti..


Karena


ada guratan senyum terpahat diantara pekatnya malam
membius memoriku untuk sejenak terduduk menikmati lengkung bibirmu
ah degup jantung kian menggebu memainkan irama dag dig dug bergantian
serentak gairahku memuncak
mengantarkan rasa ingintahu
menatap..
hanya bisa meratap
memandang..
sungguh malang

adakah kiranya pemilik senyum itu singgah sejenak di padang hatiku yang gersang?
menabur bibit lavender, melukis oase, atau sekadar membubuhkan jejak kaki diatas butir pasir

ayolah!
aku tidak menggigit
hanya ingin meraba sosokmu bersemayam dalam lubuk
barangkali rasanya akan semilir,
menikam raga yang kian lumpuh digerogoti kesendirian

aw, senyummu mencubit hatiku
tidak sakit namun membekas di benak
pikiranku terkoyak oleh sketsa wajahmu dan senyum itu
semakin ingintahu
semakin dan semakin aku ingin menyeretmu menghuni hati ini
hati yang kehausan..



Air mata

Air mataku jatuh sebutir dua butir lalu banjir
mengalir deras meninggalkan jejak rasa asinnya di sudut sudut wajah
Tangis pun pecah bersama gundah dan hawa gerah
Lihat ! Tubuhku dilumuri air mata kepahitan
Lihat ! Inilah air mata yang kusimpan dari masa lampau
Lihat ! Bahkan kini air mataku berubah merah serupa darah
Sungguh, Lihatlah !
Ternyata hatiku masih dilanda kemarau meski mataku telah lelah menurunkan gerimisnya...

26 Mei 2010
23:44



Gelap

Malam ini gelap terasa kian menakutkan
Ia buas, seperti hendak menyerangku lewat keganasan taringnya
Matanya nanar, senyumnya sinis, wajahnya terlihat bak pemain kuda lumping yang sedang kerasukan
Gerakku diawasi, nafasku dibatasi
Kini aku diburu oleh gelap
Gelap pun mulai kalap
Aku dihabisi, dikuliti, dagingku dipereteli
Lalu aku mati
Oleh gelap
Dan oleh ketakutanku sendiri..


26 Mei 2010
01.40

Tidak ada komentar: