
Pentas Kolosal Ruwat Bumi
Dekonstruksi Ebeg, sebagai Terapi Zaman
karya keluarga besar Teater SiAnak FISIP – UNSOED
Salam budaya..
Salam seni Untuk Keberpihakan!
Sebuah pentas dengan Judul “Pentas Kolosal Ruwat Bumi - Dekonstruksi Ebeg, sebagai terapi zaman” ini berawal dari kegelisahan keluarga besar Teater SiAnak pada banyaknya bencana atau musibah yang melanda bumi tercinta. Bencana seperti banjir, gempa, pesawat jatuh, kapal karam, konflik antaragama antaretnis atau konflik-konflik yang lainnya diinterpretasikan oleh Teater SiAnak bahwa sang penguasa alam dalam hal ini Tuhan sedang murka/marah melihat kelakuan manusianya yang tidak bisa merawat bumi/alamnya. Istilah pentas kolosal pada pementasan ini, karena pentas kali ini merupakan pentas gabungan antara anggota teater SiAnak (aktif), anggota teater SiAnak yang sudah tidak aktif (alumni/fosil) dari mulai angkatan pertama Teater SiAnak tahun 1986 sampai angkatan sekarang tahun 2009, teater Receh – Program Studi MIPA UNSOED, alumni-alumni FISIP UNSOED dan di hari H pementasan nanti konsep pementasan ini rencananya juga akan melibatkan penonton di atas panggung berukuran 10 x 10 meter.
Kata Ruwat Bumi di atas diambil dari istilah banyumas yang berarti sebuah proses perawatan, pemeliharaan bumi atau alam semesta. Sedangkan yang dimaksud dengan Dekonstruksi Ebeg, sebagai terapi zaman pada judul di atas merupakan gambaran pementasan teater SiAnak yang mengangkat isue seputar Ebeg, tetapi disajikan dengan pertunjukan ebeg yang berbeda dari pertunjukan ebeg biasanya. Misalnya dalam pertunjukan ebeg yang biasanya kuda-kudaan yang dinaiki oleh pemain ebeg adalah kuda lumping, tetapi dalam pementasan kali ini kuda-kudaan yang dinaiki terdiri dari beragam kuda antara lain kuda yang terbuat dari pipa air, kuda yang terbuat dari kardus bekas, kuda yang terbuat dari bambu, bleketepe dan barang-barang bekas lainnya.
Latar belakang lain yang memotivasi Teater SiAnak dalam memilih tema pada pementasan dilaksanakan pada hari Sabtu, 02 Januari 2010 ini antara lain :
Ebeg sebagai kebudayaan asli Banyumas
Ebeg yang notabene kesenian asli banyumas, semakin jarang peminat bahkan akhirnya kesenian ebeg jarang muncul di daerah banyumas. Yang dikhawatirkan oleh Teater SiAnak adalah kesenian ebeg tersebut akan punah di banyumas, bahkan bisa jadi akan di klaim oleh negara lain (semoga saja tidak). Untuk itu menurut Teater SiAnak perlu adanya pelestarian budaya.
Ebeg sebagai gambaran kehidupan manusia
Alur dalam pertunjukan Ebeg merupakan gambaran kehidupan manusia di dunia. Berdasarkan riset dan analisis Teater SiAnak, pertunjukan Ebeg terdiri dari 3 (tiga) tahap antara lain :
*Tahap I à Tarian Ebeg yang rapih
Pada tahap kesatu ebeg biasanya menari bersama dan berkeliling arena pementasan dengan rapih. Di tahap ini menggambarkan kehidupan manusia pada saat masih usia anak-anak, yang penurut, senang bermain dan masih polos.
*Tahap II à Ebeg Kesurupan (istilah banyumas : kelebon indang)
Pada tahap kedua ebeg biasanya mengalami kesurupan, tidak sadarkan diri dan memakan makanan yang tidak lazim dimakan oleh manusia dalam keadaan sadar. Di tahap ini menggambarkan kehidupan manusia pada saat usia remaja - dewasa, yang suka membangkang, susah diatur dan lain sebagainya. Tahap ini juga menggambarkan kondisi masyarakat indonesia yang rakus, tidak mensyukuri alamnya bahkan tidak punya rasa peri kemanusiaan. Hal ini terlihat dari banyaknya terjadi korupsi di indonesia, pembalakan hutan, penipuan, pembunuhan, ketidakadilan hukum seperti dalam kasus pencurian Kakao, Pencurian semangka, Kapuk-randu, konflik yang menyangkut SARA, pengeboman, KDRT, dan segala macam tindakan kriminal yang terjadi.
*Tahap III à Ebeg yang disadarkan oleh Dukun/pawang Ebeg
Pada tahap ketiga ebeg biasanya disadarkan oleh dukun ebeg. Di tahap ini menggambarkan kehidupan manusia yang baru sadar atau bertobat ketika sudah lanjut usia.
Ebeg sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya masyarakat yang “Pragmatis”
Menurut analisa Teater SiAnak selain ebeg sebagai gambaran prajurit-prajurit yang gagah, adegan-adegan dalam pertunjukan Ebeg juga mempunyai makna perlawanan terhadap budaya masyarakat yang pragmatis.
Beberapa adegan diantaranya adalah Ebeg makan pecahan kaca/beling, adegan ini menggambarkan bahwa kaca/beling yang pada zaman dahulu dianggap benda berharga – yang biasanya dipajang di tempat-tempat berharga seperti rak, bufet atau meja tetapi dalam pertunjukan ebeg benda tersebut dimakan dengan lahapnya oleh Ebeg. Ebeg memakan dan mengupas kelapa dengan menggunakan giginya, adegan ini menggambarkan bahwa betapa kuat dan tidak tergantungnya terhadap teknologi kondisi masyarakat pada jaman dahulu. Berbeda dengan kondisi masyarakat saat ini yang begitu tergantungnya kepada teknologi, sehingga untuk mengupas kelapa harus menggunakan golok atau bahkan mesin pengupas kelapa. Ebeg memakan rumput atau dedaunan, adegan ini menggambarkan bahwa betapa prihatinnya masyarakat zaman dahulu jika dibandingkan dengan kondisi masyarakat saat ini yang ketika ingin makan harus dengan lauk-lauk yang mewah, - sebut saja misal harus makan dengan KFC, Mc Donald, Pizza atau makanan-makanan mewah lainnya.
Sedikit harapan dari Teater SiAnak setelah Pementasan :
Di tengah banyaknya kesenian Indonesia yang di klaim oleh negara lain, semoga banyak masyarakat Banyumas yang tergugah dan tertarik kembali untuk mempelajari Kesenian Tradisional Ebeg - Banyumasan, sehingga kesenian asli Banyumas tersebut tetap terlestarikan.
Banyaknya musibah bencana, gempa, banjir atau musibah-musibah lainnya yang menimpa Bumi Pertiwi Indonesia semoga membuat masyarakat Indonesia instropeksi dan sadar bahwa bisa jadi hal itu terjadi semuanya karena ulah manusia-manusia yang saat ini tidak mensyukuri nikmat-Nya dan karena tidak bisa merawat alam sekitar dengan sebagaimana mestinya. Maka dari itu, mari kita rawat dengan sebaik-sebaiknya alam Indonesia ini.
Semakin mewabahnya penyakit masyarakat (Pragmatisme), semoga masyarakat Indonesia – khususnya masyarakat Banyumas tidak terjerumus ke dalam pola pikir instant, tidak berfikir praktis yang kemudian akhirnya menghalalkan segala macam cara untuk bertahan hidup.
Dalam pementasan kali ini, Teater SiAnak menggunakan panggung di luar ruangan yakni tepatnya di depan bangunan ruang jurusan politik, Fisip Unsoed. Sekitar 300-an penonton yang menghadiri pementasan yang terdiri dari beberapa anggota kawakan teater SiAnak. Pentas kali ini juga di hadiri oleh pegiat seni di banyumas Bambang Set, Bode Riswandi penyair muda asal Tasikmalaya dan beberapa teman-teman penikmat seni di banyumas.
Salam Budaya
Salam seni Untuk Keberpihakan
ACHMAD SAPTONO
(HUMAS “Pentas Kolosal Ruwat Bumi - Dekonstruksi Ebeg sebagai terapi zaman”, Anggota Teater SiAnak FISIP-UNSOED Purwokerto)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar