Minggu, 15 Nov
Yang hadir :
Fosil : Kang Da'ong, Kang BoLed, Kang Yudi imam, Kang Asep.
SiAnak aktif : Ismi, Tino, Efi_Piyul, Erna, Betri, Doyok, Hendrikus, Mugi, Grifit_idung, Mega_megol, Ika
Rumah Terindah “Teater SiAnak”, 15 November 2009. Suasana rumah terindah/sekretariat “teater SiAnak” kali ini tidak seperti biasanya. Kali ini rumah terindah yang biasa disebut “sekre” oleh warga Fisip-Unsoed tampak seperti gedung kesenian tradisional karena alunan musik pertunjukan ebeg yang ditonton bareng oleh keluarga besar teater SiAnak. Nonton bareng pertunjukan ebeg ini sengaja dilakukan untuk kembali membedah simbol-simbol yang digunakan dalam pertunjukan ebeg. Kalau pingin tau hasil pembahasannya, silahkan simak baik-baik.
Tim Pencari isu yang digawangi kang boled dan kang yudi_imam beberapa hari yang lalu berhasil mewawancarai dukun dan pemain ebeg di daerah banjar, yang hasilnya antara lain : Dari dua dukun ebeg yang telah diwawancarai oleh Tim Pencari isu, ternyata mereka tidak paham dengan sejarah ebeg secara detil. Jadi, orientasi mereka bermain ebeg hanya sekedar ingin melestarikan kebudayaan lokal saja. Sedangkan mengenai simbol-simbol yang ada dalam ebeg Tim Pencari isu tidak dapat secara langsung, karena terkait dengan transformasi yang di dapat tidak dari pendahulunya atau para sesepuh yang lebih banyak mengerti tentang ebeg. Menurut dukun ebeg, kita berkesenian ebeg itu karena ingin melestarikan kebudayaan lokal. Pasalnya, ada yang bilang bahwa bermain ebeg itu sekedar hobi, karena ketika orientasinya profit maka penghasilannya itu tidak mencukupin untuk kehidupan sehari-hari.
Sedangkan terkait dengan pemain ebeg yang trans (kesurupan) itu sebenarnya tidak semua pemain ebeg yang sedang menari itu kesurupan (kelebon indhang) bahkan ada yang hanya berpura-pura atau hanya sekedar untuk meramaikan suasana. Karena memang selera makan indhang itu bermacam macam, ada yang makan kotoran ada yang makan tumbuh-tumbuhan dan lain sebagainya. Terkait dengan negosiasi yang terjadi antara pemain ebeg dengan dukun/pawang ebeg, biasanya kalo misalnya indhang itu punya permintaan yang macam-macam nanti akan di ikat menggunakan tali sejenis tambang oleh paranormal/dukun ebeg selama kurang lebih 40 hari 40 malam. Karena syarat untuk ikut bermain ebeg adalah harus makan makanan seadanya yang telah disediakan oleh dukun ebeg. Berdasarkan hasil analisa mas anang fahmi, manusia saat ini sudah lupa berdialog dengan alam makanya alam jadi marah sehingga terjadi musibah dimana-mana baik musibah di darat, laut maupun udara seperti gempa, kapal laut yang tenggelam atau pesawat udara yang jatuh dan tidak ditemukan. Jadi ebeg bisa dijadikan sebagai salah satu media untuk berdialog dengan alam. Ebeg, kalau di aplikasikan dengan dunia saat ini adalah gimana kita bisa seimbang atau bisa menyesuaikan dengan alam sekitar. Suatu contoh adalah terjadinya klaim budaya antara malaysia dengan indonesia, menurut kang da'ong tidak akan terjadi ketika terjadi dialog antara indonesia dengan malaysia.
Menurut kang Boled, ketika terjadi negosiasi antara pemain ebeg dengan dukunnya misal pemain ebeg harus makan ini atau makan itu yang sudah disiapkan oleh dukun ebeg. Nah, terkait dengan cara untuk menjadi kesurupan, itupun caranya ada berbagai macam, misal ada yang harus muter-muter dulu dalam arti wayangnya/aktornya itu harus muter-muter dengan mengikuti beat iringan musiknya, ada yang langsung dari dukun ebeg yang memasukan indhang ke orangnya terus pemain ebeg itu langsung kesurupan. Kang boled menambahkan, bahwa terdapat berbagai macam indhang yang ada dalam pertunjukan ebeg. Diantaranya adalah indhang ketek, ciri-cirinya adalah gaya makannya atau makanan yang dimakan itu layaknya manusia, sedangkan indhang yang lainnya biasanya tangannya disimpan dibelakang badan kemudian sang dukun baru membantu untuk mengambilkan makanan. Kalau ciri-ciri dari Indhang singo barong adalah indhang ini perlu main adegan yang atraktif atau cenderung lebih berbahaya. Ada juga indhang yang dapat kita pahami berdasarkan gerak-geriknya, yaitu indhang ular misalnya karena geraknya yang seperti ular, indhang mayit biasanya ciri-cirinya adalah posisinya kalo udah mau keluar/sadar dari trans biasanya layaknya orang meninggal, dan minta ditutupi badannya menggunakan kain. Kalau indhang macan dan indhang buaya biasanya dapat dilihat dari jenis makanannya, misalnya makan ikan yang kecil-kecil dan lain sebagainya. Ada juga indhang yang biasanya nangis, itu adalah indhang yang sedih karena melihat permainan gamelan/gending yang tidak harmonis/sinkron.
Menurut Kang Da’ong, “Di dalam pertunjukan ebeg biasanya ada pemain yang dinamakan Penthul, yang digambarkan sebagai pelengkap dari alur pertunjukkan ebeg yang biasanya muncul di sela pertunjukan ebeg, bahkan bisa jadi penthul sebagai pengantar ebeg menuju trans (kesurupan). Atau juga dapat di interpretasikan sebagai sosok penggembala atau bisa juga sebagai bentuk penyegaran dalan pementasan”. Sambil asik merokok, kang boled kembali melontarkan pendapat bahwasanya gesture ebeg yang muter-muter itu sebagai gambaran ebeg akan menuju trans. Nah, yang mendem pertama kali itu biasanya orang yang baris di deret paling depan. Ada juga Ebeg yang kalau mau trans/mendem itu biasanya muter-muter dulu.
Hasi wawancara kemarin di dalam ebeg itu tidak ada keharusan, jadi kalo ada penghibur itu ya emang udah biasa. Sebenarnya ada cara yang lebih mudah untuk mengetahui apakah ebeg itu sedang mendem atau tidak, yaitu dengan cara melihat gerakannya misal sinkron atau tidak gerakan si ebeg dengan harmonisasi musiknya. Sedangkan musik/lagu eling-eling itu bisa digunakan saat menuju trans atau menuju penyadaran.
Setelah selesai pembahasan tentang simbol-simbol, kali ini forum ditutup dengan memakan rujak bengkoang kiriman Mas Adha bersama-sama di sekre SiAnak tercinta.(Noy)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar