Oleh : Achmad Saptono (panggil; Tino)
Apa itu Ebeg?
Ebeg' adalah jenis tarian rakyat yang berkembang di wilayah Barlingmascakeb (Purbalingga,Banyumas,cilacap,kebumen)-Jawa Tengah. Varian lain dari jenis kesenian ini di daerah lain dikenal dengan nama kuda lumping atau jaran kepang, ada juga yang menamakannya jathilan (Yogyakarta) juga reog (Jawa Timur). Tarian ini menggunakan “ebeg” yaitu anyaman bambu yang dibentuk menyerupai kuda berwarna hitam atau putih dan diberi kerincingan.

Penarinya mengenakan celana panjang dilapisi kain batik sebatas lutut dan berkacamata hitam, mengenakan mahkota dan sumping ditelinganya. Pada kedua pergelangan tangan dan kaki dipasangi gelang-gelang kerincingan sehingga gerakan tangan dan kaki penari ebeg selalu dibarengi dengan bunyi kerincingan.
Jumlah penari ebeg 8 oarang atau lebih, dua orang berperan sebagai penthul-tembem, seorang berperan sebagai pemimpin atau dalang, 7 orang lagi sebagai penabuh gamelan, jadi satu grup ebeg bisa beranggotakan 16 orang atau lebih. Semua penari menggunakan alat bantu ebeg sedangkan penthul-tembem memakai topeng. Tarian ebeg termasuk jenis tari massal, pertunjukannya memerlukan tempat pagelaran yang cukup luas seperti lapangan atau pelataran/halaman rumah yang cukup luas.
Waktu pertunjukan umumnya siang hari dengan durasi antara 1 – 4 jam. Peralatan untuk Gendhing pengiring yang dipergunakan antara lain kendang, saron, kenong, gong dan terompet. Selain peralatan Gendhing dan tari, ada juga ubarampe (sesaji) yang mesti disediakan berupa : bunga-bungaan, pisang raja dan pisang mas, kelapa muda (dewegan),jajanan pasar,dll. Untuk mengiringi tarian ini selalu digunakan lagu-lagu irama Banyumasan seperti ricik-ricik, gudril, blendrong, lung gadung,( crebonan), dan lain-lain.
Yang unik, disaat pagelaran, saat trans (kerasukan/mendem) para pemainnya biasa memakan pecahan kaca (beling) atau barang tajam lainnya, mengupas kelapa dengan gigi, makan padi dari tangkainya, dhedek (katul), bara api, dll. sehingga menunjukkan kekuatannya Satria, demikian pula pemain yang manaiki kuda kepang menggambarkan kegagahan prajurit berkuda dengan segala atraksinya.
Biasanya dalam pertunjukan ebeg dilengkapi dengan atraksi barongan, penthul dan cepet. Dalam pertunjukannya, ebeg diiringi oleh gamelan yang lazim disebut bendhe.
Mari kita pelajari simbol-simbol yang ada dalam pertunjukkan Ebeg!
1) Ebeg makan pecahan kaca (beling) atau barang tajam lainnya
Pecahan kaca (beling) dahulu dianggap sebagai sebuah benda berharga/hiasan yang dipajang di atas bufeet, diatas meja hias atau tempat-tempat yang dianggap mewah. Setiap orang/keluarga yang memiliki beling (piring, gelas dan hiasan-hiasan lainny) biasanya berusaha untuk merawat sebaik mungkin. Misalnya dalam jangka waktu satu bulan sekali ada agenda untuk bersih-bersih rumah, maka beling tersebut menjadi salah satu benda yang wajib untuk dibersihkan dengan di lap, digosok dan lain sebagainya.
Arus globalisasi yang tidak terbendung akhirnya mampu menggerus semua asal muasal kenapa ada ebeg yang memakan pecahan kaca (beling). Masyarakat jaman sekarang banyak yang tidak menyadari hal itu.
2) Ebeg mengupas kelapa dengan gigi
Dengan cara apa masyarakat saat ini ketika mengupas kelapa? Saya kira sudah semakin jarang masyarakat yang mengupas kelapa dengan menggunakan golok/kapak. Karena saat ini, kebanyakan masyarakat sudah menggunakan alat tersendiri yang di design khusus untuk mengupas kelapa.
Saya kira banyak esensi kenapa ebeg mengupas kelapa dengan menggunakan giginya, karena itu penggambaran bahwa masyarakat dahulu penuh perjuangan. Jika dikaitkan dengan masyarakat saat ini, betapa manjanya masyarakat saat ini yang menggunakan mesin untuk mengupas kelapa. Lihat gambar mesin dibawah :

3) Ebeg makan rumput
Masih adakah masyarakat modern seperti sekarang ini yang mau makan rumput? Memang masih ada, tapi hanya beberapa gelintir saja. Bagi saya (anak fisip), buka bidang saya memang...tapi yang namanya rumput itu kan salah satu jenis tumbuhan yang alami. Sekarang coba lihat makanan jaman sekarang deh, kandungannya apa saja? Formalin? Borak? Pemanis? Pewarna?.
Masyarakat saat ini kebanyakan makan makanan yang bukan murni “makanan”, campuran tok isinya...
4) Pemain Ebeg yang manaiki kuda
Kuda jaman dahulu merupakan satu tunggangan yang biasa digunakan untuk bertempur, berperang di medan laga. Pemain ebeg yang menaiki kuda itu betapa menggambarkan kegagahan sosok prajurit berkuda dengan segala atraksinya. Konteks sekarang, apa kabar kuda?
Ebeg versus Budaya barat
Adanya globalisasi di indonesia mampu menciptakan budaya populis, sebuah gaya hidup yang mengedepankan trend. Globalisasi, dalam hal ini masuknya budaya-budaya barat kemudian mampu mengkonstruk masyarakat indonesia menjadi mempunyai gaya hidup konsumerisme, mengekor, miskin kreativitas, mempunyai pola pikir pragmatis,instant. Tapi itulah realita yang ada di indonesia saat ini. Ingatkah sudah berapa banyak kesenian khas kita yang di klaim oleh bangsa lain?
Saya kira, lama kelamaan ebeg pun bisa jadi akan di klaim oleh bangsa asing kalau kita (masyarakat indonesia) tidak mencoba untuk kembali melestarikannya.
Isu yang ada dalam tema ebeg ini saya kira masih sangat banyak makna serta esensinya. Namun baru sebatas ini yang bisa saya pahami. Nuwun...(Tino).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar