Minggu, 12 Juni 2011

Nyulik Butet, Halim, Wani dan Tim artistik Gandrik

Rabu, 18 Mei 2011/10.53 WIB/Sekre Bersama

Moderator : Qthink

Peserta yang hadir : Teater SiAnak, Teater Teksas, Perisai, Didik, Margin, Timbang, Besper, dan pegiat-pegiat seni, sastra yang lainnya (Maaf tidak disebutkan satu persatu).

Forum dibuka, lalu hujan-pun turun perlahan dan makin deras… Butet, dengan kaos hitam bertuliskan “Menepuk Monarki Terpercik ke Muka sendiri”, LASKAR DAGELAN. Dan kacamata khasnya. Wani, dengan baju lengan panjang, syal melingkar di leher, berambut gondrong. Halim, dengan kaos putih “iLA gALiGa”, dengan topi khas Putu Wijaya.

Butet : Produk makanan akan diperlakukan sebagai apa? Ketika saya melakonkan monolog di awal 87an, tahun 90an saya memainkan lakonnya davin chan. Dan ada salah satu momentum perubahan politik yang merubah pola bermain. Karena pada saat itu saya menemukan pola komunikasi yang mulai tepat, karena mulai diterima oleh masyarakat. Pada saaat itu memainkan tema2 yang sangat hangat, kemudian perspektif masyarakat sangat baik. Bagaimana agar teater ditonton oleh banyak orang? Dengan segala macam upaya agar bisa diterima oleh masyarakat sekaligus menjawab kebutuhan komunitas masyarakat pecinta teater. Kemudian televise bisa menangkap sesuatu yang kita tampilkan dalam hal berkesenian.

Untungnya saya berada dalam ranah kebudayaan, ini yang agak menyelamatkan saya. Kalo saya ada dalam ranah perdagangan, kami tentu tidak perlu melakukan spekulasi. Dalam hal ini, misalkan saya mengambil monolog kucing, ngapain saya mengambil naskah yang ditulis agus nor. Toh agus nor sudah begitu terkenal. Termasuk seperti teater koma, karena sudah terkenal jadi kalo mau melakukan apa ya sudah pasti aka nada yang minat. Kalo kami mau bersombong sedeikit, kami tidak perlu berspekulasi untuk melakukan eksperimentasi-eksperimentasi. Karena ya kami kebetulan hidup di ranah kebudayaan tadi.

Putu wijaya sempat melarang saya memainkan kucing, karena menurutnya saya lebih cocok memainkan Democrazy. Memang naskah itu sangat politis. Kalo saya menuruti apa yang dikatakan oleh putu, berarti saya semakin mengukuhkan bahwa saya adalah actor yang bermain di ranah politis. Matinya tukang kritik itu lakon yang diperankan dengan artistic yang sangat ribet, karena memainkan multimedia dan sebagainya. Bagi saya lakon kucing ini memberikan ruang kemungkinan, ruang eksplorasi kemampuan2 tubuh. Kucing ceritanya sangat sederhana sekali, dan dari cerita sangat jauh dari statemen2 politik. Sangat jauh dengan naskah democrazy yang sangat2 politis. Saya merasa tertantang dengan lakon kucing, karena bukan Cuma berisi pernyataan, kalo pernyataan semua kan itu jelas essay politik. Saya berdosa, bahwa monolog itu seakan-akan harus mengangkat isu politik, bahwa monolog itu harus mengimitasi salah satu tokoh politik. Pernah saya suatu hari bertemu dengan ibu2 yang menanyakan, “mas siapa nama tokoh lain yang akan ditirukan dalam pentas selanjutnya?”. Monolog itu permainkan seni peran, suara hati yang diperankan.

Harapan saya kalo saya berhasil memainkan kucing, agar masyarakat itu tidak menganggap bahwa monolog itu tidak harus bermain di ranah politik. Saya sebagai pemain harus siap menerima kritikan dari media, karena kalo di Jakarta banyak orang yang kecewa karena tidak seperti saat saya main di matinya tukang kritik, atau sarimin. Nah kali ini musiknya sangat minimalis. Aspek lighting juga sangat minim, betul2 menguji kemampuan peran.

Lakon kucing bersifat mobile, sangat adaptatif yang bisa dimainkan dimana saja, minimal oleh 5 orang. Saya pernah memainkan kucing sendirian, tanpa setting, lighting saya main. Karena ingin membuktikan satu karya elastisitas yang sudah jadi. Jadi ini betuil2 sejak awal sudah kita design, yang adaptatif yang elastic, yang bisa mendekatkan karya saya dengan penikmat karya saya.

Halim : sebelum dilanjut, nanti silahkan semoga anda akan mendapatkan persepsi tentang apa itu sutradara dalam lakon kucing ini? Karena sutradara dalam lakon ini sangat berbeda prosesnyad dengan sutradara dalam lakon lain.

Wani : tahun 70, yang mengawali adalah bengkel teater rendra. Kemudian ditiru oleh banyak kelompok teater, bahwa sutradara itu memegang kekuasaan tertinggi dalam dunia teater. Dalam lakon kucing, saya merasa tidak ingin seperti itu, karenanya sejak awal saya menyutradarai dengan pijakan awal yang dimiliki oleh butet, kedua yang dimaui oleh Butet. Yang dimiliki dan yang dimaui ini kadang2 sudah untuk didapat. Karena itu, dalam menata garis laku, sejauh mana butet bisa memainkan garis laku itu, bahkan hanya mengucapkan kata aku, akunya kurang bagus, dalam satu jam itu hanya mengucapkan kata aku. Tentu saja dengan butet tidak perlu seperti itu. Karenanya tawar-menawar dalam naskah ini sangat longgar sekali. Sutradara itu fungsi manajemen, manajerial. Kali ini betul2 mengandalkan dialektika dalam sebuah proses. Sejak awal, butet tidak ingin sebagai papan untuk menutupi asumsi-asumsi public. Di dalam kucing sudah saya bilang, bahwa ini akan bermain dengan persepsi penonton. Saya tidak menamai kucing ini realism, karena saya sendiri kurang konsisten dan menurut saya realism juga banyak, ada realismenya Chekov dan sebagainya. Di dalam garapan saya, sudah ada pembocoran ke wilayah public, dengan maksud supaya teater ini lebih ramah dengan masyarakat. Supaya teater menjadi nikmat, dan bisa dinikmati oleh banyak orang.

Halim : saya tidak mau mengambil kesimpulan, jadi apa yang anda ingin tanyakan ya silahkan!

Qthink : termin pertama, dua pertanyaan.

Termin diskusi 10 54 WIB

Galih (JKT) : kenapa seni teater atau sastra tidak pernah masuk dalam kurikulum pendidikan? Saran apa yang bisa diberikan kepada pegiat teater agar bisa masuk dalam kurikulum pendidikan? Kedua, apa pendapat mas butet ketika mendengar kata “generasi manja”?

Satrio : Pentas kucing ini sesuatu yang baru, perncapaian yang lama digeser dulu tetap ada, nah bagi saya, saya salut, karena di titik itu orang bisa belajar. Di usia 50, mas butet masih ingin terus belajar. Kenapa yang dipilih naskah kucing yang ingin disampaikan ke public?

Butet : menarik, tentang teater yang dikurikulumkan. kalo saya pengennya teater itu masuk kurikulum. Saya pernah diundang di pentas anak SD kelas 6 yang dimainkan dengan bahasa inggris dengan artistic yang lengkap. Bagi mereka panggungh pertunjukan itu bukan tujuannya, tapi kebersamaan dalam prosesnya itu yang dijadikan tujuannya. Di sana yang kita dapatkan adalah bagaimana seseorang itu belajar hidup, menghayati kebersamaan, kerja sama teamwork, antara ego orangh perorang itu harus saling ngerem. Mereka belajar melatih disiplin. Bukan keterampilan bermain semata-mata. Kesalahan pendidikan kita ini, kita disuruh mendengar guru atau dosen mengajar di kelas. Gobloknya pendidikan kita itu ya kaya gitu. Padahal kan saat ini kita bisa ngopi pake USB atau Flashdisk untuk meminta materi.

Pendidikan teater bagi saya, bukan terciptanya peristiwa itu. Jadi bagaimana manusia antarmanusia itu bisa menghayati hidup dalam kebersamaan. Yang sebenarnya semua permasalahan itu akan ada dalam proses latihan teater. Karena di dalam teater itu banyak peran2 kecil yang tersembunyi yang sesungguhnya memiliki makna yang sangat2 penting. Misalnya peran2 yang tersembunyi yang dimainkan oleh konsumsi, apakah kalian tau siapa konsumsi yang ada pada teater koma? Teater gandrik? Nah itu lah peran2 yang tersembunyi dalam teater.

Kalo kita sering membaca buku2 praktis seperti “cara sukses dalam 24 jam” maka kita akan terjebak menjadi manusia yang tidak bisa menghayati kemanusiaan. Kalo di Purwokerto saya dengar isu pemimpinnya mau menghancurkan sutejo, lah ini kalo computer ya kaya isinya Cuma excel, itung-itungan doang. Pemimpinnya gak punya cita rasa kebudayaan. Bagi saya kesalahan terbesar pemimpin saat ini adalah tidak mempunyai cita kebudayaan.

Generasi manja! Itu pernyataan kehidupoan yang memprihatinkan. Saya sering memberikan ilustrasi, orang itu harusnya bisa seperti pohon. Benih, ia disirami, atau bayi yang diopeni, diberikan pendidikan, yang kemudian bercabang, rimbun dan akarnya semakin kuat, sehingga badai datang pun akan kuat. Nah generasi hari ini adalah generasi cangkok. Orang tidak pernah menghayati suatu proses, jadi langsung gede. Gede memang gede, tapi tidak memiliki suatu akar.

Saya tidak percaya kalo ada teater yang diciptakan dengan proses2 yang sangat instant. Ketika kita berhadapan dengan manusia2 yang berkecenderungan instant, maka saya akan membantah mereka. Persoalannya adalah kita sekarang ada di ranah sebelah mana? Kita biasanya selalu bermain di ranah orientasi kualitas, yang saya bilang ranah industry itu, ranah perdagangan itu. Saya melakukan Sentilan Sentilun, itu proses instant. Tapi itu kaki saya yang berbeda. Kenapa saya melakukan itu? Ini kan industry. Saya menjual jasa kreatif. Yang terpenting menurut saya adalah kita ada di sebuah kesadaran.

Soal kucing, proses ini sebenarnya secara tidak langsung untuk menghormati mas putu juga. Waktu main di Solo, formatnya kaya membaca. Saya memilih kucing karena kesederhanaannya.

Azis : Monolog dianggap politis. Sejauh apa monolog ini dibawakan dengan merambah ke estetika pertunjukan yang baru? Untuk bang Halim, tentang surat terbuka menjawab sms radhar panca dahana. Tidak ada actor berbakat dibawah usia 30 tahun, terutama di kalangan mahasiswa. Itu 4 tahun lalu. Bagaimana di tahun 2011 ini? Adakah actor di usia itu yang berbakat seperti yang diokonsepsikan oleh Radhar Panca Dahana?

Hujan mulai reda, disusul oleh Butet yang menjawab pertanyaan-pertanyaan audiens

Butet : mencoba menguji kembali ingatan kami. Cara bermain seperti ini yang dulu saya mainkan pada tahun 80an, jadi sideback. Ini sebenarnya pertunjukkan yang biasa banget. Ini bagian dari kesadaran untuk agar kita tidak stagnant. Kalo target saya dikunjungi oleh banyak orang, mendapatkan banyak tepuk tangan, hanya saya merasa bukan di situ kok. Sebenarnya tidak ada inovasi apa-apa, kembali ke masa lalu untuk menemukan seni peran.

Halim : pernyataan itu bukan pertahun, tapi belasan tahun. Di temu teman, festamasio di Palembang, saya mundur juga. Dulu juga, ratna sarumpaet meminta saya untuk menjadi Kurator, dan beberapa teman yang lain. Saya tersinggung, ketika ada dasar pikiran “krisis actor”. Akhirnya saya buka perdebatan di Millis, apakah anda membutuhkan banyak actor di Makasar? Saya bisa menunjuk actor 50-60 aktor di jogja, bandung, solo, Jakarta dan lain-lain. Krisis directing, krisis sutradara adalah krisis sistemik. Nah saya mencoba melacak sejarah ini, lalu saya lontarkan, mari…siapapun bisa menjadi actor, bisa menjadi sutradara. Mari kita bongkar bahwa kita bisa bermain teater kapan saja dan dimana saja.

Untuk teater kampus, cobalah untuk focus ke satu reportoar. Dengan konsekuensi membaca, bertukat pikiran lewat internet. Saya masih cemas, kucing keliling kampus menawarkan dialog. Kenapa saya selalu bicara tentang “model”? saya punya data, kenapa di Indonesia actor itu hanya bertahan sampai di usia 30an, kecuali actor yang mempunyai kapasitas lebih dalam bermain keaktoran.

Wani : Jadikan teater itu sebagai autentik dalam diri anda. Teater itu bukan sebuah pertunjukan, tetapi sebuah proses.

Aan : Kehidupan kampus paling 4-5 tahun. Ketika actor, sudah menemukan titik yang dianggap “inilah ide”. Ketika itu ia pindah ke luar, teater yang menghasilkan ia begitu. Kemudian ia pindah keluar. Inovasi di Indonesia kurang intens. Kalo di teater kampus, kita masih tidak konsisten, konsep hancur karena ada salah seorang yang masuk. Kalo di teater kampus, itu sebuah eksperimen.

Halim : pernahkah anda melakukan eksperimen lewat skill?

Qthinx : karena waktu yang terbatas, setelah ini Pak Butet akan bersiap-siap nyetting panggung. Jadi forum ini dicukupkan sekian dulu. Tapi nanti masih ada waktu buat santai-santai dan photo2 sekitar 15 menitan.

Tidak ada komentar: