oleh: Regina
Menanti
bergejolak di balik telaga
ilusi dunia terkasat mata
diombang-ambingkan angin
ke hulu dan ke hilir
tak hilang, tak musnah
tergeletak tak berdaya
menunggu datangnya surya
menghantar mati atau berdiri
masih tergeletak
makin terkoyak-koyak
tak luput di injak-injak
tetap menanti surya
berharap kan membantu tuk berdiri
Menunggu Mati
kaki tak henti gemeteran
awak mulai terhuyung
angin bertubi-tubi melibas bayangan
sedetik kemudian jatuh terjerembab
darah muncrat dari mulut pucat
setelah perut terinjak-injak
diambang sadar dan tak sadar
mencoba ngesot pergi tuk bersembunyi
di dalam persembunyian meringkuk sendiri
meratapi nasib, menunggu mati
Lihatlah !!
Lihatlah kawan,
Kini pepohonan mulai meringkuk
Jika datang mentari yang bulat besar itu
Entah sedang bagaimana
Mentari itu berotasi
Hingga panasnya bukan untuk
Membuat pohon tegap berdiri
Lihatlah kawan,
Kini air laut sedang berlarian
Coba menyapu daratan tertinggi
Entah sedang bagaimana
Samudra mengendalikannya
Hingga pepohonan harus terancam
Tapi air laut ...
Untitled
Bumi basah,
dingin mulai menggerayangi tubuhku,
dan bau tanah basah menjelajah sudut ruang
Sejuk,
tenang,
nyaman,
damai..
bila waktu bisa ku hentikan,
ku hentikan sekarang juga..
agar aku bisa berlama-lama
menikmati keindahan suasana kini
melupakan sejenak
kesibukan aktifitas yang memusingkan
masalah-masalah cinta yang tak kunjung henti
persetan dengan semua
Tidak ada komentar:
Posting Komentar